Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning MANAJEMEN DAN LOGISTIK OBAT DI KLINIK – Arlina Dewi Blog

MANAJEMEN DAN LOGISTIK OBAT DI KLINIK

Biaya yang diserap untuk pengadaan obat di klinik cukuptinggi, yaitu berkisar 30-40%. Oleh karena itu pihak manajemen klinik harus dapat mengendalikan pembelian dan penggunaan obat-obatan di klinik efektif  dan efisien serta sesuai dengan kebutuhan.  Penimbunan obat di gudang obat akan menyebabkan problem tersendiri, yaitu bagi arus uang  maupun kemungkinan kadaluarsa obat. Tata kelola obat yang baik sangat diperlukan di klinik, dan termasuk bagian penting dalam penilaian akreditasi klinik.

Pelayanan Kefarmasian merupakan kegiatan yang terpadu dengan tujuan untuk mengidentifikasi, mencegah dan menyelesaikan masalah Obat dan masalah yang berhubungan dengan kesehatan. Tuntutan pasien dan masyarakat akan peningkatan mutu Pelayanan Kefarmasian, mengharuskan adanya perluasan dari paradigma lama yang berorientasi kepada produk (drug oriented) menjadi paradigma baru yang berorientasi pada pasien (patient oriented) dengan filosofi Pelayanan Kefarmasian (pharmaceutical care).

Pelayanan kefarmasian di klinik meliputi 2 (dua) kegiatan, yaitu kegiatan yang bersifat manajerial berupa pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai dan kegiatan pelayanan farmasi klinik. Kegiatan tersebut harus didukung oleh sumber daya manusia dan sarana dan prasarana.

Sumber daya manusia :

Penyelengaraan Pelayanan Kefarmasian di klinik minimal harus dilaksanakan oleh 1 (satu) orang tenaga Apoteker sebagai penanggung jawab, yang dapat dibantu oleh Tenaga Teknis Kefarmasian sesuai kebutuhan. Apabila Klinik tidak memiliki tenaga Apoteker maka pelayanan farmasi dilakukan oleh apotik, baik sebagai jejaring kerjasama   maupun di luar kerjasama klinik

Jumlah kebutuhan Apoteker  dihitung berdasarkan rasio kunjungan pasien, baik rawat inap maupun rawat jalan serta memperhatikan pengembangan Klinik. Rasio untuk menentukan jumlah Apoteker di Puskesmas adalah 1 (satu) Apoteker untuk 50 (lima puluh) pasien perhari (Permenkes 30 tahun 2014 tentang Standar pelayanan kefarmasian di Puskesmas)

Sarana dan Prasarana

Sarana yang diperlukan untuk menunjang pelayanan kefarmasi meliputi sarana yang memiliki fungsi:

  1. Ruang penerimaan resep . Ruang penerimaan resep ditempatkan pada bagian paling depan dan mudah terlihat oleh pasien.
  2. Ruang pelayanan resep dan peracikan (produksi sediaan secara terbatas)

di ruang peracikan disediakan peralatan peracikan, timbangan obat, air minum (air mineral) untuk pengencer, sendok obat, bahan pengemas obat, lemari pendingin, termometer ruangan, blanko salinan resep, etiket dan label obat, buku catatan pelayanan resep, buku-buku referensi/standar sesuai kebutuhan, serta alat tulis secukupnya. Ruang ini diatur agar mendapatkan cahaya dan sirkulasi udara yang cukup. Jika memungkinkan disediakan pendingin ruangan (air conditioner) sesuai kebutuhan.

  1. Ruang penyerahan obat, meliputi konter penyerahan obat, buku pencatatan penyerahan dan pengeluaran obat. Ruang penyerahan obat dapat digabungkan dengan ruang penerimaan resep.
  2. Ruang konseling
  3. Ruang penyimpanan obat dan bahan medis habis pakai

Ruang penyimpanan harus memperhatikan kondisi sanitasi, temperatur, kelembaban, ventilasi, pemisahan untuk menjamin mutu produk dan keamanan petugas. Selain itu juga memungkinkan masuknya cahaya yang cukup. Ruang penyimpanan yang baik perlu dilengkapi dengan rak/lemari obat, pallet, pendingin ruangan (ac), lemari pendingin, lemari penyimpanan khusus narkotika dan psikotropika, lemari penyimpanan obat khusus, pengukur suhu, dan kartu suhu.

  1. Ruang arsip dibutuhkan untuk menyimpan dokumen yang berkaitan dengan pengelolaan obat dan bahan medis habis pakai dan pelayanan kefarmasian dalam jangka waktu tertentu.

 

Istilah ‘ruang’ di sini tidak harus diartikan sebagai wujud ‘ruangan’ secara fisik, namun lebih kepada fungsi yang dilakukan. Bila memungkinkan, setiap fungsi tersebut disediakan ruangan secara tersendiri. Jika tidak, maka dapat digabungkan lebih dari 1 (satu) fungsi, namun harus terdapat pemisahan yang jelas antar fungsi.

6.1. Tata Kelola Obat (bersambung)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*