Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning MODEL DEMAND PADA KOMODITAS KESEHATAN – Arlina Dewi Blog

MODEL DEMAND PADA KOMODITAS KESEHATAN

Grosman’s Theory (1-2) mengungkapkan model demand pada “good health”. Pada model ini,  kesehatan individu bukanlah faktor eksogen tetapi merupakan variabel tergantung/terikat  pada sumber daya yang dialokasikan untuk menghasilkan kesehatan. Konsumen menginginkan kesehatan untuk dua alasan. Pertama, sebagai komoditas konsumsi maka kesehatan secara langsung memasuki fungsi preferensi, komoditi yang harus dibeli. Kedua, sebagai komoditas investasi maka kesehatan menetukan jumlah waktu yang tersedia untuk kegiatan bekerja. Dengan kata lain, kenaikan stok kesehatan mengurangi kerugian waktu dari aktivitas  dan nilai keuangan (2).  Model ini penting karena :

  1. Tingkatan kesehatan mempengaruhi ekonomi;
  2. Disadari bahwa orang bukan membeli  pelayanan kesehatan  tetapi membeli kesehatan.

Konsumen menghasilkan komoditas sehat dengan pemasukan dari pasar barang dan waktu mereka sendiri, contoh mereka menggunakan peralatan olahraga dan waktu untuk rekreasi dan rohani, atau bisa diartikan bahwa barang dan jasa ini adalah masukan untuk komoditas produksi, permintaan untuk barang dan jasa ini merupakan sebuah “derived demand” permintaan yang diturunkan (1, 3) .

Diasumsikan bahwa orang mewarisi stok awal kesehatan yang terus menurun dan dapat ditingkatkan dengan investasi.  Fungsi produksi ini tergantung pada variabel lingkungan tertentu dan pendidikan. Pendidikan  merupakan faktor penting karena mempengaruhi efisiensi proses produksi tersebut (1-2, 4). Orang memiliki stok kesehatan dan bisa bertambah oleh investasi. Kematian dikatakan terjadi ketika stok kesehatan menurun di bawah level tertentu dan satu dari fitur baru model ini adalah orang-orang “memilih” lamanya hidup mereka, melalui tahapan sebagai berikut :  (1)

  1. Memilih jumlah kesehatan yang optimal dalam kehdupan mereka;
  2. Merumuskan kondisi yang seimbang untuk kesehatan.

Studi empiris menujukkan bahwa pada orang dengan kekayaan yang tinggi akan meningkatan demand terhadap perawatan kesehatan tetapi akan menurunkan permintaan kesehatan karena faktor-faktor seperti peningkatan penggunaan alkohol, rokok dan makanan (1-2).

Pada tahun 1986, Wagstaff mengembangkan presentasi sederhana yang didasarkan pada presentasi  dari Grossman dengan asumsi sebagai berikut (5):

  1. Kesehatan adalah kebutuhan manusia selain kebutuhan lainnya, sehingga
    tidak diragukan lagi status kesehatan yang baik adalah tujuan dari setiap
    orang, namun kesehatan juga bersaing dengan kebutuhan lainnya;
  2. Kepuasan kebutuhan tersebut berkompetisi dengan perilaku kesehatan yang mempengaruhi kesehatan, misal konsumsi barang-barang yang berpengaruh langsung kesehatan (merokok, alkohol, dll.);
  3. Kondisi kesehatan seseorang ditentukan oleh konsumsi barang kesehatan atau pelayanan kesehatan yang digunakan (misal pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan atau tenaga tradisional).

Hal ini menunjukkan bahwa keadaan kesehatan dan kebutuhan kesehatan tidak selalu berkorelasi positif.

Perencanaan kesehatan dapat menggunakan need (kebutuhan) dan  demand. Need (kebutuhan) adalah jumlah pelayanan kesehatan yang diyakini oleh para ahli kesehatan harus dimiliki  oleh seseorang untuk tetap atau menjadi kondisi seoptimal mungkin. Namun demikian, analisis permintaan tetap dibutuhkan karena dengan hanya berdasarkan need (kebutuhan), kemungkinan terjadi berbagai kesalahan. (6-7).

 

 

  1. Grossman M. On the Concept of Health Capital and the Demand for Health. The Journal of Political Economy. 1972;80(2):223-55.
  2. Grossman M. The Demand for Health: A Theoretical and Empirical Investigation. New York: National Bureau of Economi Research; 1972. Available from: http://www.nber.org/chapters/c3484.
  3. Schultz TP. Health economics and applications in developing countries. Journal of Helath Eonomic. 2004;23:637-41.
  4. Galama T, Kapteyn A. Grossman’s missing health threshold. Journal of Helath Eonomic. 2011;30(1):1044-56.
  5. Muhlbacher AC. Health Determinants, Economic. In: Kirch W, editor. Encyclopedia of Public Health. New York: Springer; 2008.
  6. Djuhaeni H. Modul belajar mengajar : Asuransi Kesehatan dan Managed Care2007.
  7. Tjiptoherjanto P, Soesetyo B. Ekonomi Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta; 2002.

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*