Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning DEMAND UNTUK ASURANSI KESEHATAN – Arlina Dewi Blog

DEMAND UNTUK ASURANSI KESEHATAN

Pengertian demand/permintaan terhadap asuransi kesehatan tidak terlepas dari pengertian permintaan dalam Ilmu Ekonomi yaitu jumlah komoditi berupa barang atau jasa yang mau dan mampu dikonsumsi oleh konsumen dalam periode waktu tertentu (1). Menurut Feldstein (2),  demand terhadap asuransi kesehatan berarti sejumlah benefit asuransi yang bersedia dibeli (WTP) dengan berbagai premi/harga, tambahan benefit asuransi akan dibayar jika premi/harga asuransi turun .

Konsep asuransi yakni mengalihkan semua atau sebagian risiko (risk) kerugian ke dalam suatu bentuk pembayarn premi (3). Konsumen membayar premi asuransi untuk menutupi biaya pengobatan di tahun yang akan datang.  Untuk setiap satu konsumen, premi akan lebih tinggi atau lebih rendah dari biaya pengobatan, tetapi perusahaan asuransi dapat mengumpulkan atau membagi risiko diantara banyak peserta (risk pooling), sehingga jumlah premi akan melebihi jumlah biaya pengobatan peserta. Atau dengan kata lain berlaku hukum  “the law of the large number” (4).

  1. Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan asuransi kesehatan

Pengeluaran biaya kesehatan  tidak  pasti secara waktu dan biaya. Pengeluaran biaya kesehatan dapat berupa pengeluaran langsung maupun tidak langsung akibat tidak dapat bekerjanya seseorang. Asuransi kesehatan membantu untuk mengurangi risiko biaya kesehatan yang tidak pasti ini. Asuransi dapat diartikan sebagai berikut (4-6) :

  1. Pertukaran dari kehilangan besar yang tidak pasti dengan kehilangan kecil yang pasti, yaitu membayar premi asuransi;
  2. Pertukaran uang sekarang untuk uang yang digunakan untuk membayar ketidakpastian pada terjadinya peristiwa.

Secara umum asuransi kesehatan untuk mentransfer uang dari yang sehat ke yang sakit. Pandangan sistematis terhadap keputusan membeli asuransi dipengaruhi oleh :

  1. Harga asuransi kesehatan

Menghindari risiko biaya akibat sakit dapat dilimpahkan ke penanggung asuransi, dengan cara membayar premi. Besarnya premi berhubungan dengan tingkat utility (kepuasan). Bila utiliti yang sebenarnya (actual utility) melebihi dari utiliti yang diperkirakan (expected utility) maka konsumen akan membeli asuransi tersebut, dan sebaliknya (7). Semakin tinggi harga asuransi, maka akan semakin sedikit WTP untuk asuransi (2).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa permintaan asuransi kesehatan pada umumnya price-inelastis. Perubahan persentase  harga asuransi, bagi pegawai, majikan, dan perorangan dalam pasar non group, menimbulkan perubahan persentase yang lebih kecil dalam permintaan (inelastis), tetapi  keelastisan yang diperkirakan memiliki jangkauan yang  lebar. Pada pasar perseorangan, perkiraan elastisitas harga permintaan  berkisar antara -0,2 sampai -0,6 (8)

  1. Tingkat kekayaaan / income

Pendapatan yang rendah akan menurunkan tingkat permintaan terhadap asuransi (9). Bukti yang terbatas menunjukkan bahwa konsumen yang berpenghasilan lebih tinggi lebih rendah sensitifitasnya (inelastis) terhadap harga dibandingkan yang berpenghasilan lebih rendah (10-11). Tetapi beberapa studi observasi yang digunakan untuk memperkirakan elastisitas  pendapatan permintaan secara konsisten menunjukkan bahwa permintaan asuransi kesehatan  tidak elastis sehubungan dengan perbedaan pendapatan konsumen. Studi  menunjukkan bahwa elastisitas  pendapatan terhadap permintaan asuransi kesehatan < 0,1 (2, 10).

Studi yang dilakukan oleh Fabbri and Monfardini  (12) melaporkan bahwa semakin kaya dan semakin sehat individu akan mengkonsumsi lebih banyak asuransi privat. Semakin tinggi tingkat penghasilan seseorang maka akan semakin menginginkan jaminan asuransi yang lebih luas.

  • Kemungkinan sakit

Setiap individu menghadapi 2 kemungkinan pada lingkungan yang sama  : yaitu kemungkinan untuk sakit dan kemungkinan untuk tetap sehat atau tidak mendatangkan biaya kesehatan (9). Jumlah uang yang bersedia dibayarkan (WTP) oleh individu untuk  asuransi tergantung pada taraf risiko yang dapat  dihindari (7). Hasil penelitian di Norwegian (13) menunjukkan bahwa smoker memiliki demand yang lebih tinggi dibandingkan non-smoker.

 

 

  1. Biaya perawatan kesehatan pada saat sakit.

Ketika individu  sakit maka individu tesebut akan menghadapi biaya kesehatan, pengeluaran ini diasumsikan untuk mengembalikan secara penuh kerugian akibat sakit (9). Semakin besar kemungkinan kehilangan,  maka akan semakin besar premi yang bersedia dibayarkan (2). Karena alasan ini maka lebih banyak orang yang membeli asuransi kesehata untuk rawat inap daripada asuransi kesehatan untuk gigi atau mata (7).  Saat ini biaya kesehatan menjadi semakin tinggi sehubungan banyak tehnologi-teknologi baru yang bermunculan (14).

  1. Tingkatan individu menghindari risiko (risk averse)

Individu yang risk taker (berani mengambil risiko) memiliki WTP yang lebih rendah dari individu yang risk averse (tidak berani menghadapi risiko) (2, 15). Peluang ini mempengaruhi kekayaan (1-2).  Semakin tinggi risk averse seseorang, maka kurva utiliiy  akan semakin cekung (7).

 

 

  1. Folland S, Goodman AC, Stano M. The Economics of Health and Health Care. New Jersey: Perason Prentice Hall; 2007.
  2. Feldstein PJ. Health Care Economics. Toronto: John Wiley & Sons, Inc; 1979.
  3. Nurbaiti, Susmono H, Roosyana, Kirana K, Lubis EI, Thabarany H, et al. Modul : Managed care: Bagian A  Mengintegrasikan Penyelenggaraan dan Pembiayaan Pelayanan Kesehatan. 2008 EA, editor. Jakarta: PAMJAKI; 2008.
  4. Thabrany H. Asuransi Kesehatan Nasional. Jakarta: PAMJAKI; 2011.
  5. InWent. Online Course Health Financing: Module 2 Basic Concepts and Terminology of Health Economics2008.
  6. Dewar DM. Essentials of Health Economics. Sudbury: Jones and Bartlett Publishers; 2010.
  7. Santerre RE, Neun SP. The Demand for Medical Insurance: Traditional and Managed Care Coverage2004.
  8. Liu S, Chollet D. Final Report: Price and Income Elasticity of the Demand for Health Insurance and Health Care Services: A Critical Review of the Literature. 2006.
  9. Jacobs P, Rapoport J. The Economics of Health ad Medical Care. Fifth ed. London: Jones and Bartlett Publishers; 2002.
  10. Lee RH. Economics for Healthcare Managers. Second ed. Chicago: AUPHA; 2009.
  11. Krueger AB, Kuziemko I. The Demand for Health Insurance among Uninsured Americans: Results of a Survey Experiment and Implications for Policy2011: Available from: http://www.princeton.edu/~kuziemko/gallup_ik_25feb2011.pdf.
  12. Fabbri D, Monfardini C. Discussion Paper Series : Opt Out or Top Up? Voluntary Healthcare Insurance and the Public vs. Private Substitution. Bonn: IZA; 2011.
  13. Aarbu KO. Discussion paper : Demand Patterns forTreatment Insurance in Norway. Norwegian: Norwegian School of Economics and Business Administration (NHH); 2010.
  14. Bhat R, Jain N. Factoring Affecting the Demand for Health Insurance in a Micro Insurance Scheme. Ahmedabad: Indian Institute of Management2006.
  15. Lofgren C, Thanh NX, Chuc NT, Emmelin A, Lindholm L. People’s willingness to pay for health insurance in rural Vietnam. Cost Effectiveness and Resource Allocation 2008. 2008;6(16).

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*